Kamis, 09 Februari 2012

TEMA :
UPAYA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PERTANIAN DENGAN POTENSI SUMBERDAYA ALAM YANG RAMAH LINGKUNGAN


JUDUL :
MENGGALI POTENSI SUMBERDAYA PETERNAK SAPI PERAH
DI KECAMATAN CEPOGO KABUPATEN BOYOLALI
 JAWA TENGAH
OLEH : IRWAN SUSIANTO

PENDAHULUAN

Usaha peternakan sapi perah, dengan skala lebih besar dari 20 ekor dan relatif terlokalisasi akan menimbulkan masalah terhadap lingkungan (SK. Mentan. No.237/Kpts/RC410/1991 tentang batasan usaha peternakan yang harus melakukan evaluasi lingkungan). Populasi sapi perah di Indonesia terus meningkat dari 334.371 ekor pada tahun 1997 menjadi 368.490 ekor pada tahun 2001 dan limbah yang dihasilkanpun akan semakin banyak (BPS, 2001). Satu ekor sapi dengan bobot badan 400–500 kg dapat menghasilkan limbah padat dan cair sebesar 27,5-30 kg/ekor/hari. Limbah peternakan umumnya meliputi semua kotoran yang dihasilkan dari suatu kegiatan usaha peternakan, baik berupa limbah padat dan cairan, gas, ataupun sisa pakan (Soehadji, 1992). Ditambahkan oleh Soehadji (1992), limbah peternakan adalah semua buangan dari usaha peternakan yang bersifat padat, cair dan gas. Limbah padat merupakan semua limbah yang berbentuk padatan atau dalam fase padat (kotoran ternak, ternak yang mati atau isi perut dari pemotongan ternak). Limbah cair adalah semua limbah yang berbentuk cairan atau berada dalam fase cair (air seni atau urine, air pencucian alat-alat). Sedangkan limbah gas adalah semua limbah yang berbentuk gas atau berada dalam fase gas. Menurut Juheini (1999), sebanyak 56,67 persen peternak sapi perah membuang limbah kebadan sungai tanpa pengelolaan sehingga terjadi pencemaran lingkungan. Pencemaran ini disebabkan oleh aktivitas peternakan, terutama berasal dari limbah yang dikeluarkan oleh ternak yaitu feses, urine, sisa pakan, dan air sisa pembersihan ternak dan kandang (Charles, 1991; Prasetyo etal., 1993). Adanya pencemaran oleh limbah peternakan sapi sering menimbulkan berbagai protes dari kalangan masyarakat sekitarnya terutama rasa gatal ketika menggunakan air sungai yang tercemar di samping bau yang sangat menyengat.

Pengelolaan limbah yang kurang baik akan menjadi masalah serius pada usaha peternakan sapi perah. Sebaliknya bila limbah ini dikelola dengan baik dapat memberikan nilai tambah. Salah satu upaya untuk mengurangi limbah adalah mengintegrasikan usaha tersebut dengan beberapa usaha lainnya, seperti penggunaan suplemen pada pakan, usaha pembuatan kompos, budidaya ikan, budidaya padi sawah sehingga menjadi suatu sistem yang saling sinergis. Upaya memadukan tanaman, ternak dan ikan di lahan pertanian memiliki manfaat ekologis dan ekonomis. Laju pertumbuhan produktivitas usaha pertanian merupakan interaksi di antara berbagai faktor yang ada dalam sistem. Usaha tani dalam meningkatkan sistem usaha pertanian diperlukan teknologi alternatif untuk memperbaiki produktivitas lahan dan meningkatkan pendapatan petani, antara lain melalui teknologi sistem usaha peternakan yang menerapkan konsep produksi bersih.

Limbah peternakan merupakan produk dari usaha peternakan, yang keberadaannya tidak dikehendaki sehingga harus dibuang. Limbah peternakan terdiri dari banyak jenis sesuai ternak yang menghasilkannya. Usaha budidaya ternak (sapi) menghasilkan limbah berupa kotoran ternak (feces, urine), sisa pakan ternak seperti potongan rumput, jerami, dedaunan, dedak, konsentrat dan sejenisnya. Selama ini pemanfaatan pupuk organik dimaksud langsung digunakan untuk pemupukan, tanpa melalui proses pengolahan. Kondisi ini dimungkinkan terjadi mengingat antara lain : tidak disadarinya manfaat dan fungsi pengolahan kotoran sapi, kurangnya pengetahuan proses pembuatan pupuk organik secara sederhana dan cepat, kurangnya pemahaman mengenai nilai tambah pupuk organik dari kotoran ternak dan kurangnya pemahaman para peternak khususnya terhadap dampak negatif yang ditimbulkan dari pencemaran lingkungan oleh kotoran ternak.

Oleh karena pentingnya penanganan limbah kotoran sapi perah ini maka perlu adanya usaha yang sinergis dengan melibatkan semua komponen baik peternak sapi perah, pemerintah dan stakeholder dalam menciptakan lingkungan yang bersih serta usaha lain yang mempunyai manfaat ekonomis, ekologis dan pariwisata. Usaha dengan menggabungkan beberapa potensi telah banyak dilakukan pada sebagian besar peternak sapi perah di Indonesia termasuk peternak sapi perah di kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali namun upaya tersebut perlu lebih dilakukan berbagi upaya baru agar dapat menghasilkan potensi lain yang tidak kalah pentingnya sehingga dapat meningkatkan penghasilan tambahan yang dapat mensejahterakan petani dan peternak sapi.

PEMBAHASAN
A.    KARAKTERISTIK SUMBERDAYA ALAM DI BOYOLALI

Boyolali merupakan salah satu dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah yang berbatasan dengan Kabupaten Semarang dan Grobogan di sebelah Utara, Kabupaten Klaten dan Provinsi DI Yogyakarta di sebelah Selatan, Kabupaten Sukoharjo, Sragen, Kota Surakarta, Kabupaten Karanganyar di sebelah timur, serta Kabupaten Magelang, dan Kabupaten Semarang di sebelah Barat. Kabupaten yang terkenal dengan produksi susu sapinya ini terletak pada ketinggian 1.600 meter di atas permukaan air laut dan terdiri dari 19 kecamatan, 263 Desa, dan empat kelurahan. Kabupaten Boyolali memiliki luas wilayah kurang lebih 101.510.096,5 Ha atau kurang lebih 4,5% dari luas Propinsi Jawa Tengah. Secara geografis letak Kabupaten Boyolali sangat strategis karena diapit oleh kota besar. Disebelah timur dan selatan merupakan daerah rendah sedangkan di se belah utara dan barat merupakan daerah pegunungan. 

Wilayah Cepogo dibatasi oleh sebelah utara kecamatan Ampel, sebelah timur kecamatan Boyolali, sebelah selatan kecamatan Musuk dan sebelah barat kecamatan Selo (Dinas Peternakan Jawa Tengah, 2008). Kecamatan Cepogo memiliki luas lahan 5.299.800 ha yang terdiri dari lahan pertanian seluas 55,8 ha, tegalan/ladang seluas 3.118,6 ha dan padang rumput seluas 55,5 ha dan lainnya 357 ha serta sisanya adalah lahan kosong dan laha perkebunan. Wilayah ini merupakan tanah litosol cokelat yang menggambarkan bahwa daerah ini memiliki prospek pengembangan agribisnis ternak, tanaman pangan, sayuran dan palawija.

Peternakan tidak bisa dipisahkan dari identitas Boyolali. Hampir di setiap sudut wilayah terdapat patung sapi dalam ukuran besar maupun kecil, sebagai produk unggulan, seekor sapi perah bisa menghasilkan susu 10-15 liter setiap per hari. Selain susunya dan daging, sapi potong dari daerah ini juga menghasilkan kulit yang digunakan sebagai bahan pembuatan tas, sepatu, dompet, dan bahan makanan.

B.    PEMANFAATAN KOTORAN SAPI
1.    Pupuk Organik Untuk Meningkatkan Produktivitas Pertanian 
Petani di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah memproduksi sendiri pupuk yang ramah lingkungan. Petani menggunakan pupuk organik dalam praktik pertanian dengan hasil akhirnya adalah padi organik. Proses ini memang memerlukan waktu lebih lama, tetapi menghasilkan produk pertanian yang lebih bagus untuk kesehatan dan lingkungan petani. VECO Indonesia, bersama mitranya di Boyolali, yaitu Asosiasi Petani Padi Boyolali (Appoli) dan Lembaga Studi Kemasyarakatan dan Bina Bakat (LSKBB), mendukung petani dalam proses perubahan tersebut. Appoli merupakan organisasi petani di tingkat kabupaten. Sedangkan LSKBB adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) mitra VECO Indonesia yang bekerja di wilayah Boyolali dan Solo Raya. Contoh petani anggota Appoli yang beralih ke pertanian organik tersebut adalah Kelompok Tani Budhi Rahayu, Desa Catur, Kecamatan Sambi. Anggota kelompok tani ini semuanya perempuan. Mereka memproduksi sendiri pupuk organik untuk kebutuhan produksinya. 

Sebagian besar petani di Kabupaten Boyolali memproduksi pupuk organik sendiri. Petani laki-laki dan perempuan menghancurkan buah-buahan. Buah yang sudah hancur dimasukkan ke ember untuk dibiarkan agar mencair. Bahan lainnya dibuat dengan menggunakan mesin. Mereka mencampur semua bahan, seperti rumput, ranting, dan cabang pohon untuk dihancurkan sampai halus. Bahan ketiga berupa kotoran sapi. Penggunaan pupuk organik itu memberikan banyak keuntungan, baik pada petani maupun tanah dan konsumen. Dengan menggunakan pupuk organik, petani lebih peduli pada tanahnya. Lahan yang selama ini diolah dengan pupuk kimia membutuhkan masukan dan bahan yang selalu lebih. Petani harus menggunakan pestisida kimia tiap tahun jika ingin panen dengan jumlah yang sama. Akibatnya, biaya produksi pun lebih mahal dan tanah mengalami kerusakan. Penggunaan pupuk organik merupakan salah satu solusi untuk menjaga kesehatan petani ataupun tanah. Menggunakan pupuk organik, hasil pertanian mereka juga lebih banyak. Konsumen mereka juga makin bertambah, terutama kalangan perkotaan yang sadar perlunya pangan sehat untuk mereka. Konsumen mereka tak hanya kalangan rumah tangga di Boyolali dan Solo tapi juga perusahaan swasta.

Pemanfaatan kotoran ternak sebagai sumber pupuk organik sangat mendukung usaha pertanian tanaman sayuran. Satu ekor sapi dewasa dapat menghasilkan 23,59 kg kotoran tiap harinya. Pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak dapat menghasilkan beberapa unsur hara yang sangat dibutuhkan tanaman. Disamping menghasilkan unsur hara makro, pupuk kandang juga menghasilkan sejumlah unsur hara mikro, seperti Fe, Zn, Bo, Mn, Cu, dan Mo. Jadi dapat dikatakan bahwa pupuk kandang ini dapat dianggap sebagai pupuk alternatif untuk mempertahankan produksi tanaman.

2.    Mengubah Kotoran Sapi Menjadi Sumber Energi Ramah Lingkungan
Biogas adalah gas mudah terbakar   (flammable) yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam kondisi kedap udara). Pada umumnya semua jenis bahan organik bisa diproses untuk menghasilkan biogas, namun demikian hanya bahan organik (padat, cair) homogen seperti kotoran dan urine (air kencing) hewan ternak yang cocok untuk sistem biogas sederhana. Di daerah yang banyak industri pemrosesan makanan antara lain tahu, tempe, ikan pindang atau brem bisa menyatukan saluran limbahnya ke dalam sistem biogas, sehingga limbah industri tersebut tidak mencemari lingkungan di sekitarnya. Hal ini memungkinkan karena limbah industri tersebut di atas berasal dari bahan organik yang homogen. Jenis bahan organik yang diproses sangat mempengaruhi produktivitas sistem biogas di samping parameter-parameter lain seperti temperatur digester, pH, tekanan, dan kelembaban udara.

Limbah peternakan seperti feses, urin beserta sisa pakan ternak sapi merupakan salah satu sumber bahan yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas. Namun di sisi lain perkembangan atau pertumbuhan industri peternakan menimbulkan masalah bagi lingkungan seperti menumpuknya limbah peternakan termasuknya didalamnya limbah peternakan sapi. Limbah ini menjadi polutan karena dekomposisi kotoran ternak berupa BOD dan COD (Biological/Chemical Oxygen Demand), bakteri patogen sehingga menyebabkan polusi air (terkontaminasinya air bawah tanah, air permukaan), polusi udara dengan debu dan bau yang ditimbulkannya.

Biogas merupakan renewable energy yang dapat dijadikan bahan bakar alternatif untuk menggantikan bahan bakar yang berasal dari fosil seperti minyak tanah dan gas alam. Biogas juga sebagai salah satu jenis bioenergi yang didefinisikan sebagai gas yang dilepaskan jika bahan-bahan organik seperti kotoran ternak, kotoran manusia, jerami, sekam dan daun-daun hasil sortiran sayur difermentasi atau mengalami proses metanisasi. Kotoran ternak terdiri dari kotoran padat dan cair atau disebut feses dan urine. Ada beberapa pilihan untuk memanfaatkan kotoran ternak, yaitu penggunaan kotoran ternak untuk pupuk, penghasil biogas dan bahan pembuatan bioarang. Penggunaan kotoran ternak untuk pupuk sudah lama dilakukan dan penggunaannya telah meluas. Penggunaan kotoran ternak untuk menghasilkan biogas dan bioarang, walaupun sudah populer, tetapi penggunaannya belum meluas. 

Biogas adalah bahan bakar yang diperoleh melalui proses fermentasi anaerob dari limbah pertanian, kotoran ternak, tinja manusia, dan bahan organik lain. Beberapa keuntungan yang akan diperoleh dari penggunaan kotoran ternak sebagai penghasil biogas adalah sebagai berikut :
  1. Biogas yang dihasilkan diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan minyak tanah yang jumlahnya terbatas dan harganya cukup mahal.
  2. Jika diterapkan oleh masyarakat di sekitar hutan yang banyak menggunakan kayu sebagai bahan bakar, diharapkan dapat mengurangi penebangan kayu sehingga kelestarian hutan lebih terjaga.
  3. Teknologi ini dapat mengurangi pencemaran lingkungan karena kotoran yang semula hanya mencemari lingkungan digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat. Dengan demikian kebersihan lingkungan lebih terjaga.
  4. Selain menghasilkan energi, buangan (sludge) dari alat penghasil biogas ini juga dapat digunakan sebagai pupuk kandang yang baik.
Bioarang adalah arang yang diperoleh dari pembakaran biomassa kering dengan sistem tanpa udara (pirolisis). Adapun biomassa adalah bahan organik yang berasal dari jasad hidup, baik hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Pemanfaatan kotoran ternak sebagai bahan pembuatan bioarang pada dasarnya mempunyai tujuan yang sama dengan pembuatan biogas. Kedua cara ini sama-sama merupakan usaha meningkatkan dan memanfaatkan energi yang terdapat di dalam kotoran ternak. Namun pada cara ini, kotoran ternak dibuat menjadi arang sehingga dapat digunakan sebagai bahan bakar dengan kemampuan energi pembakaran yang lebih besar. Sebagai gambaran, energi yang dihasilkan dari pembakaran kayu hanya 3300 kkal/kg, sedangkan energi yang dihasilkan dari pembakaran bioarang dapat mencapai 5000 kkal/kg. Bioarang mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan arang biasa :
a.    Menghasilkan panas pembakaran yang lebih tinggi
b.    Asap yang dihasilkan lebih sedikit
c.    Bentuk dan ukuran seragam karena dibuat dengan alat pencetak
d.    Dapat tampil lebih menarik karena bentuk dan ukurannya dapat disesuaikan

3.    Mengubah Kotoran Sapi Menjadi Uang
Sebuah contoh prilaku peternak sapi yang mengubah kotoran sapi menjadi potensi yang menghasilkan uang terjadi pada salah seorang peternak sapi di Kabupaten Boyolali yang berhasil memanfaatkan kotoran sapi yang terserak di kampungnya untuk membuat pupuk organik. Awalnya, usaha petani tersebut jatuh bangun karena tidak mudah mendapatkan pasar pupuk organik di tengah masih populernya pupuk kimia dan kuatnya permainan mafia pupuk. Mula-mula hanya bisa memproduksi puluhan ton per bulan. Namun, dengan keuletan dan kerja keras, saat ini petani tersebut bisa memproduksi pupuk organik hingga 500 ton per bulan. Tenaga kerjanya yang awalnya hanya 5 orang kini berkembang menjadi 20 orang. Dengan harga pupuk organik sebesar Rp 500 per kilogram, omzet petani tersebut bisa mencapai Rp 250 juta per bulan. Kejelian dan kerja kerasnya memproduksi pupuk organik tidak hanya menguntungkan dirinya sendiri. Sekitar 500 petani yang tinggal di kampungnya dan kampung sekitarnya sekarang telah mendapatkan tambahan penghasilan dari kotoran sapi.

Kotoran sapi yang sebelumnya dianggap masyarakat kurang bermanfaat ternyata bisa menjadi uang di tangan petani tersebut. Meskipun tidak besar, tambahan penghasilan tersebut cukup untuk menambah modal usaha tani dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat peternak dan petani sekaligus. Usaha pupuk organik tersebut sekarang melambung tinggi ketika pemerintah mengeluarkan program Bantuan Pupuk Pemerintah (BPP) untuk petani miskin tahun 2009. Pabrik dan distributor pupuk besar yang diminta menyalurkan BPP, seperti PT Pertani dan PT Sang Hyang Seri ikut bekerja sama dengan produsen pupuk-pupuk organik skala menengah dan kecil dan petani menangkap peluang tersebut dengan ikut serta menjadi pemasok pupuk organik dari kotoran sapi.

Proses produksi pupuk organik dimulai dengan mengumpulkan bahan baku berupa kotoran sapi dari para penduduk. Untuk meningkatkan motivasi dan semangat petani mengumpulkan dan mengeringkan kotoran sapi, biasanya dengan mengirim dan menghargai harga kotoran sapi tersebut. Harga kotoran sapi yang telah dikeringkan selama seminggu sekitar Rp 40 per kilogram. Jadi, dengan dua sapi, satu keluarga petani biasanya bisa memperoleh upah sekitar Rp 50.000 per bulan. Selanjutnya, kotoran sapi yang telah kering diangkut dari rumah-rumah penduduk ke tempat produksi yang terletak di areal persawahan.

4.    Pemanfaatan Kotoran Sapi Menjadi Gerabah Yang Bernilai Tinggi
Pemanfaatan hasil limbah industri peternakan sapi selama ini sebagai bahan pupuk dan biogas telah berkembang dalam masyarakat. Namun peningkatan nilai ekonomis dari pemanfaatan hasil limbah tersebut masih belum optimal dan masih banyak pemanfaatan bahan alami lainnya sebagai bahan pupuk organik seperti kotoran kambing, kotoran kerbau, jerami, sekam padi, lamtoro, semua bagian vegetatif tanaman dan eceng gondok. Sementara pemanfaatan limbah tersebut sebagai bahan biogas dalam waktu dekat ini belum berkembang dengan baik karena mahalnya pemasangan peralatan biogas.

Industri gerabah yang sering disebut dengan tembikar atau keramik, merupakan salah satu jenis usaha yang mampu bertahan bahkan berkembang dalam kondisi krisis saat ini sementara sekian banyak jenis usaha lain mengalami kemacetan bahkan kehancuran. Dengan teknologi yang sederhana dan dikerjakan dengan tangan kemudian dikeringkan dibakar dengan tungku tradisional ternyata mampu mendatangkan keuntungan yang besar.

Penelitian yang sudah dilakukan dengan bantuan dana dari Proyek Due-Like Batch IV UGM tahun 2007, membuktikan bahwa kompos dari pengolahan limbah peternakan sapi sangat baik dijadikan bahan campuran pembuatan gerabah. Sifat kotoran sapi yang telah di buat kompos mempunyai sifat mengikat ion sebagai bahan perekat dengan silikat sebesar 9,6 persen sedangkan sifat tanah liat adalah mampu mengikat dan melepaskan molekul air, mampu mengembang dan mengerut, bersifat plastis dan mampu menyerap kation dan bersama bahan organik meningkatkan kemampuan mengikat air dan unsur hara bila dicampur hasil gerabah yang dihasilkan akan lebih ringan, lebih halus, lebih kuat dan mudah dalam pewarnaan berbeda dengan pemakaian bahan campuran pasir yang membuat gerabah lebih berat, lebih kasar dan membuat tangan pengrajin cepat rusak.

Kompos dari limbah peternakan sapi, sebagai bahan pencampur agar tanah liat dapat merekat erat, bahan baku ini diperoleh dari limbah peternakan sapi yang ada di wilayah kabupaten Boyolali. Air, berfungsi untuk melunakkan campuran tanah liat dan kompos sehingga memudahkan dalam membentuk suatu model gerabah dapat diminati oleh masyarakat luas bisa membuka lapangan pekerjaan baru untuk peternak-peternak sebagai usaha sampingan.

C.    MODEL-MODEL PENGEMBANGAN PETERNAKAN SAPI PERAH DAN PERTANIAN
Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan peternak sapi perah dan petani di Kabupaten Boyolali maka perlu adanya model-model pengembangan peternakan maupun pertanian yang mungkin bisa dijadikan rujukan dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas peternakan sapi perah dan pertanian sehingga tidak menimbulkan permasalahan lingkungan. Model-model pengembangan tersebut bisa diambilkan dari daerah lain yang telah menggunakan model-model tersebut dan telah merasakan keberhasilan dalam pengelolaan peternakan maupun pertanian. Model-model pengembangan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
  1. Agrowisata Ekologis Peternakan Sapi Perah, Agrowisata Ekologis Peternakan Sapi Perah di Kabupaten Boyolali adalah perencanaan kawasan pusat agribisnis yang dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas untuk peternakan dengan pendekatan arsitektur ekologis guna menunjang kepariwisataan dalam kaitannya dengan pengenalan/promosi potensi peternakan sapi perah di Kabupaten Boyolali untuk saran edukasi serta rekreasi yang bersifat memberikan pengalaman kepada wisatawa serta bertujuan untuk memasyarakatkan peternakan lewat fasilitas rekreasi yang inovatif, edutaiment dan menyenangkan sekaligus sebagai alternatif paket wisata andalan Kabupaten Boyolali.
  2. Agribisnis Ternak Sapi Perah Dengan Budidaya Jagung Manis, Salah satu alternatif memenuhi kebutuhan hijauan pakan ternak adalah dengan menggabungkan agribisnis jagung manis (sweet corn) dengan peternakan sapi perah. Jagung manis adalah varietas jagung yang hanya akan dipanen muda, yakni pada umur sekitar 70 hari di lahan dataran tinggi. Di dataran menengah dan rendah, umur panennya bisa lebih singkat, yakni sekitar 65 bahkan hanya 60 hari. Karena dipanen pada umur muda, maka tebon (batang berikut daun) jagung tersebut masih sangat hijau dan segar, hingga nilai gizinya masih tinggi bagi ternak ruminansia, khususnya sapi perah. Tongkol ini akan dibiarkan mengering di areal penanaman sampai saat panen. Pada jagung manis, pemanenan dilakukan berikut tongkolnya, hingga yang tersisa adalah batang serta daun jagung yang masih hijau. Di sentra-sentra penanaman jagung manis yang masyarakatnya banyak memelihara sapi serta domba, harga tebon jagung manis ini sekitar Rp 50,- per kg. Kalau dalam tiap hektar lahan jagung manis bisa dipanen   sekitar 20 ton tebon, maka petani masih akan memperoleh tambahan pendapatan Rp 1.000.000,- per hekrat per musim tanam.
Kebutuhan pupuk kandang di sentra-sentra penanaman jagung manis selama ini cukup tinggi. Sementara ketersediaannya sangat rendah. Karenanya pupuk kotoran sapi dan domba sangat dibutuhkan. Penggabungan pertanian jagung manis dengan peternakan sapi perah dapat mengatasi ketersedian pupuk organik yang dibutuhkan pada budidaya jagung manis. Jagung manis tidak perlu kekurangan pupuk organik, sementara pencemaran limbah peternakan juga tertanggulangi.

Fungsi pupuk organik, dalam hal ini pupuk kandang, dalam budidaya jagung manis sangat besar. Pertama, pupuk organik akan memperbaiki struktur tanah hingga daya serap akar terhadap nutrisi dalam bentuk unsur hara makro (N, P, K) akan semakin besar. Pupuk kandang yang dimaksudkan adalah kotoran ternak yang sudah terfermentasi dengan baik. Kotoran sapi perah segar yang baru saja disiram dari kandang, masih harus diperam dulu hingga siap untuk menyuburkan lahan pertanian. Kalau kotoran sapi yang baru saja diambil dari kandang itu langsung diaplikasikan ke lahan, tanaman akan mati. Sebab N dalam kotoran ternak tersebut masih sangat tinggi hingga akan melayukan tanaman. Selain itu, kotoran tersebut dalam proses fermentasinya akan mengeluarkan gas methan dan amonia yang juga bisa meracuni akar tanaman. Panas dari proses fermentasi itu pun juga  akan menimbulkan panas yang langsung berdampak ke rusaknya parakaran. Karenanya, kotoran sapi perah yang disiram dari kandang idealnya ditampung terlebih dahulu dalam sebuah bak penampungan. Apabila bak tersebut dibuat tertutup maka gas methan (biogas) yang dihasilkannya masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Untuk mempercepat proses fermentasi serta guna menghindarkan polusi bau maka ke dalam bak penampungan tersebut perlu ditambahkan biang bakteri. Misalnya EM4 atau merk lain. Tanpa bantuan bakteri, proses pemasakan pupuk akan berlangsung selama lebih dari sebulan dengan polusi bau yang luar biasa. Dengan bantuan bakteri, proses tersebut bisa dipersingkat menjadi paling lama 1 minggu dan tanpa adanya polusi bau.

Limbah peternakan sapi perah sangat spesifik. Beda dengan limbah kotoran sapi pedaging atau domba. Sebab kandang sapi perah rata-rata berlantai semen dan cara pembersihannya dilakukan harian dengan cara menyiram. Limbah peternakan sapi perah berupa kotoran yang larut dalam air yang terkandung pula urine sapi yang kadan Nnya sangat tinggi. Karenanya pemeraman kotoran sapi perah harus dengan menyertakan airnya. Karena pemeraman limbah kotoran sapi perah dengan menyertakan airnya maka pemanfaatannya untuk tanaman pun idealnya juga dengan menyertakan airnya. Cara paling praktis yang bisa dilakukan adalah dengan menyedot limbah cair tersebut dari bak penampungan menggunakan mobil tangki. Selanjutnya kotoran yang telah terfermentasi dengan baik itu langsung disiramkan ke lahan yang akan ditanami jagung manis. Karena dosis normal 5 ton per hektar dan untuk lahan kritis 20 ton tersebut adalah pupuk padat, maka pada penggunaan pupuk organik cair ini dosisnya dilipatkan. Selanjutnya, pemberian pupuk pada saat areal sudah ditanami, dilakukan dengan   menampung pupuk dalam drum-drum yang ditaruh di pinggir jalan di dekat areal jagung manis. Selanjutnya penyiraman ke masing-masing individu tanaman dilakukan secara manual. Pada pemupukan tahap kedua ini, bisa sekaligus dicampurkan (dilarutkan NPK) dengan dosis 1 atau 2 kuintal per hektar.

Saat panen jagung manis, tebon segar juga bisa langsung dipanen. Idealnya tebon segar ini dicacah menggunakan chooper hingga diperoleh partikel yang siap dicampur konsentrat untuk dikonsumsi sapi. Dalam keadaan tebon berlimpah, hasil cacahan ini bisa dibuat silase dan sekaligus disimpan dalam silo. Baik silo permanen dari bahan bata/batako, maupun silo berupa kantung plastik besar yang ditanam dalam tanah. Pemanfaatan kotoran sapi perah secara optimal, dapat meningkatkan hasil jagung manis dari 8 ton per hektar menjadi 12 sd. 14 ton per hektar. Sementara pemanfaatan tebon segar, bisa meningkatkan produktivitas susu dari 10 sd. 12 liter per hari menjadi 14 sd. 16 liter.  Dengan harga jagung manis rata-rata Rp 1.000,- per kg. tongkol segar, maka peningkatan pendapatan petani antara Rp 4.000.000,- sd. Rp 6.000.000,- per hektar per musim tanam. Sementara peningkatan pendapatan peternak, dengan harga susu segar Rp 1.500,- adalah Rp 6.000,- per ekor sapi per hari.  Hingga penerapan pola agribisnis jagung manis di sentra peternakan sapi perah, akan menguntungkan pihak petani maupun peternak.

3.    Model Pengembangan Peternakan Sederhana 

Banyak model-model yang dikembangkan oleh peternak di berbagai daerah yang disajikan secara sederhana untuk menjadi motivasi bagi peternak lain. Paling tidak dengan membaca tulisan ini peluang apa yang dapat dikembangkan di satu daerah, lebih mudah dilaksanakan.
      1. Model Madiun : Madiun adalah salah satu kabupaten yang memiliki konsep sederhana praktis dan dapat menghijaukan wilayahnya dalam waktu yang relatif singkat, dalam menyediakan pakan ternak, sekaligus meningkatkan pendapatan petani, peningkatan daerah dan melakukan penghijauan. Tekniknya sebagai berikut : Pemerintah daerah menyediakan bibit rumput King Grass atau rumput gajah dan bibit mangga aromanis; Di tepi jalan/bahu jalan dengan jarak 10 meter ditanami mangga aromanis; tidak menggunakan varietas lain, varietas mangga harus sama dan seragam agar tercipta kawasan mangga aromanis yang bisa diekspor; Apabila jalannya sempit, jalan desa maka pohon mangga ditanam secara zig-zag; Di antara tanaman mangga, ditanami tanaman rumput King Grass atau rumput gajah; Sistem bagi hasil: agar petani bertanggung jawab untuk memelihara dan menjaga pohon mangga, agar tidak dicuri, maka dilakukan bagi hasil, hasil mangga dibagi sebagai berikut: 30% hasil panen mangga untuk petani yang menghadapi pohon mangga; 30% hasil mangga untuk Pemda Kabupaten; 40% dari hasil untuk desa dan kecamatan, masing-masing mendapat 20%. Konsep bagus tersebut dibuat oleh Bupati Madiun waktu itu yang mantan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur. Kunci keberhasilan : petani dan petugas menikmati hasil keberadaan program ini; Peternak sangat dibantu dengan tersedianya pakan/rumput gajah.
      2. Model Agam : Pengembangan Program Inseminasi yang Komprehensif Model Agam tekniknya sebagai berikut : Kandang berlantai semen bersih, karena selalu dibersihkan dan dekat kandang ada sumur bor; Sapi yang dipelihara, sapi hasil inseminasi jenis Anggos dan Limousine; Kotoran sapi dialirkan dan ditampung dalam bak semen; Lahan sekitar kandang ditanami King Grass dan Elephant Grass yang dipupuk dengan kotoran dan urine sapi; Berdekatan dengan rumah pemilik sapi ada Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan); Bukit Tinggi terkenal dengan kripik singkong Hanjai, kulit singkong yang tidak beracun ini diberikan sebagai makanan sapi, sebagai tonikum boleh juga diberi makan ampas tahu.
      3. Model Boyolali : Pengembangan Rumput Daerah Boyolali memang daerah pengembangan ternak sapi perah. Di daerah Boyolali setiap langkah tanah yang dimanfaatkan untuk penanaman rumput gajah dan King Grass. Tanaman rumput di Kabupaten Boyolali ditanam di galengan-galengan sawah, bahu-bahu jalan dan tegalan-tegalan. Sehingga penyediaan pakan ternak, di daerah ini tidak menjadi masalah.
        4.    Pengembangan Pariwisata Berbasis Sumberdaya Pertanian

        Berbagai penelitian telah dilakukan dalam rangka menggali dan menemukan berbagai potensi pertanian, perkebunan, peternakan maupun perikanan yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata, mengeksplorasi berbagai sumber daya (alam, sosial, budaya) dan daya dukung lainnya yang dapat menunjang pembangunan pariwisata untuk memberdayakan dan mendiversifikasi ekonomi masyarakat pedesaan, mengidentifikasi SDM pedesaan dalam mendukung pengembangan pariwisata berbasis sumber daya pertanian (agrowisata), merumuskan model pemberdayaan dan diversifikasi ekonomi masyarakat pedesaan melalui pengembangan pariwisata berbasis sumber daya pertanian di Kabupaten Boyolali. 

        Kabupaten Boyolali memiliki sumber daya pertanian yang beragam dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata minat khusus, utamanya wisata berbasis sumber daya pertanian (agritourism). Wilayah Kabupaten Boyolali adalah kawasan yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata berbasis sumber daya pertanian karena potensi yang dimiliki serta fasilitas atau sarana dan prasarana yang tersedia serta kebijakan pemerintah maupun upaya-upaya, pengamatan dan kajian yang telah dilakukan oleh pihak swasta seperti biro perjalanan wisata, adalah Kecamatan Selo (Kawasan Selo), Desa Kuwiran di Kecamatan Banyudono dan Desa Tegalrejo di Kecamatan Sawit.

        PENUTUP

        Boyolali merupakan salah satu dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah yang terkenal dengan susu sapinya dan peternakan tidak bisa dipisahkan dari identitas Kabupaten Boyolali. Hampir di setiap sudut wilayah terdapat patung sapi dalam ukuran besar maupun kecil sebagai produk unggulan, seekor sapi perah bisa menghasilkan susu 10-15 liter setiap per hari. Selain susunya dan daging, sapi potong dari daerah ini juga menghasilkan kulit yang digunakan sebagai bahan pembuatan tas, sepatu, dompet, dan bahan makanan. Meskipun demikian peternakan sapi perah yang hampir ada disetiap wilayah Kabupaten Boyolali tidak begitu saja menguntungkan peternak maupun petani tetapi juga meninggalkan dampak yang negatif yang berupa kotoran sapi dalam jumlah yang sangat besar yang tentunya akan sangat mengganggu lingkungan terutama pembuangan limbah kotoran sapi apabila tidak dikelola dengan baik.

        Pengelolaan limbah yang kurang baik akan menjadi masalah serius pada usaha peternakan sapi perah. Sebaliknya bila limbah ini dikelola dengan baik dapat memberikan nilai tambah. Salah satu upaya untuk mengurangi limbah adalah mengintegrasikan usaha tersebut dengan beberapa usaha lainnya, seperti penggunaan suplemen pada pakan, usaha pembuatan kompos, budidaya ikan, budidaya padi sawah sehingga menjadi suatu sistem yang saling sinergis paya adan upaya memadukan tanaman, ternak dan ikan di lahan pertanian akan memiliki manfaat ekologis dan ekonomis. 

        Perlu juga dilakukan model-model pengembangan peternakan dan pertanian. Model pengembangan tersebut tentu dalam rangka diversifikasi usaha dan meningkatkan pendapatan peternak dan petani di Kabupaten Boyolali. Banyak model pengembangan diantaranya : pengembangan agribisnis, agrowisata maupun model pengembangan lain yang berorientasi pada kinerja dan peningkatan pendapatan petani dan peternak.

        PUSTAKA

        Ahmad Jauhari. Pengembangan pertanian berkelanjutan: Kasus Kemitraan agribisnis Jagung Terpadu di Desa Mojo, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali. Tesis. Universitas Indonesia.

        Balai Pusat Statistik, 2001. Buku Statistik Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta.

        Charles RT dan Hariono, B. 1991. Pencemaran Lingkungan oleh Limbah Peternakan dan Pengelolaannya. Bull.FKH-UGM Vol. X : 2.

        Dinas Peternakan Boyolali. 2008. Disnak Peternakan Boyolali Dalam Angka Sementara 2008. Jawa Tengah.

        Direktorat Jendral Peternakan Tahun 2008. Statistik Peternakan 2008. Direktorat Jendral Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta.

        Juheini, N dan Sakryanu, KD. 1998. Perencanaan Sistem Usaha tani Terpadu dalam Menunjang Pembangunan Pertanian yang Berkelanjutan : Kasus Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Jurnal Agro Ekonomi (JAE) Vol. 17 (1). Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Balitbangtan. Deptan. Jakarta.

        Sartono Putro. 2007. Penerapan Instalasi Sederhana Pengolahan Kotoran Sapi Menjadi Energi Biogas di Desa Sugihan Kecamatan Bendosari Kabupaten Sukoharjo. Artikel. Universitas Muhamadiyah Surakarta.

        Santosa, Mislaini R., dan Swara Pratiwi Anugrah. Studi Variasi Komposisi bahan Penyusun Briket dari Kotoran sapi dan Limbah Pertanian. Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas Kampus Limau Manis, Padang.

        S. Rusdiana, Lisa Praharani. 2009. Profil dan Analisa Usaha Sapi Perah di Kecamatan Cepogo kabupaten Boyolali. Makalah Seminar Nasional. Bogor 14 Oktober 2009.

        Soehadji, 1992. Kebijaksanaan Pemerintah dalam Pengembangan Industri Peternakan dan Penanganan Limbah Petemakan. Makalah Seminar. Direktorat Jenderal Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta

        Tidak ada komentar:

        Posting Komentar